Komplikasi Penyakit Jantung Koroner

Share article

Seorang pria merasakan nyeri dada akibat penyakit jantung koroner

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan gangguan jantung yang banyak dialami oleh masyarakat Indonesia. Ada banyak faktor yang menjadi penyebab, salah satunya adalah karena gaya hidup masyarakat Indonesia yang kurang sehat.

PJK dapat disembuhkan. Namun, jika tidak ditangani segera maka dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi serius yang lebih berbahaya, bahkan dapat menyebabkan kematian. Kenali apa saja komplikasi jantung koroner agar Anda bisa tetap waspada untuk kemungkinan ke depannya.

Pengertian Penyakit Jantung Koroner (PJK)

Ilustrasi kondisi penyumbatan pada pembuluh darah arteri

Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah kondisi ketika terjadi penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah arteri koroner, yaitu pembuluh darah yang bertugas mengalirkan darah kaya oksigen ke otot jantung. Bayangkan arteri koroner sebagai pipa-pipa suplai utama untuk sebuah pabrik vital (jantung). Ketika pipa ini tersumbat atau menyempit, suplai nutrisi dan oksigen ke otot jantung akan terganggu, sehingga jantung tidak dapat berfungsi dengan optimal.

Penyempitan ini umumnya disebabkan oleh proses aterosklerosis, yaitu penumpukan plak di dinding bagian dalam arteri. Plak tersebut terdiri dari kolesterol, lemak, zat buangan sel, kalsium, dan fibrin (zat bekuan darah). Seiring waktu, plak dapat mengeras dan membuat arteri menjadi kaku dan sempit. Proses ini bisa berlangsung secara bertahap selama puluhan tahun, sering kali tanpa gejala yang berarti hingga penyumbatan mencapai tingkat yang kritis.

PJK dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat. Fungsi jantung akan semakin buruk dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, perawatan jantung secara rutin sangat diperlukan agar jantung selalu sehat dan menjadi investasi jangka panjang untuk hidup yang lebih baik.

5 Komplikasi Penyakit Jantung Koroner

Seseorang sedang mengalami sesak napas akibat penyakit jantung koroner

Komplikasi Penyakit Jantung Koroner (PJK) cukup beragam dan memerlukan perawatan intensif. Meski beberapa penyakit jantung tidak memiliki gejala yang signifikan, tapi jika sudah mengetahui memiliki riwayat PJK, diperlukan perhatian khusus agar tidak terjadinya komplikasi di masa yang akan datang.

Untuk mengetahui apa saja komplikasi yang dapat ditimbulkan dari PJK, Anda bisa melihat beberapa daftar disertai dengan gejalanya agar bisa selalu waspada di bawah ini.  

1. Hipertensi Pulmonal

Hipertensi pulmonal adalah kondisi ketika tekanan darah tinggi memengaruhi pembuluh dari jantung ke paru-paru atau pembuluh arteri pulmonalis. Hal ini membuat kerja bilik kanan jantung semakin berat. Penyakit jantung koroner memang bukan satu-satunya penyebabnya, ada juga penyebab lainnya  yaitu penyakit kronis paru-paru atau gangguan tidur di malam hari.

Ketika arteri paru-paru terdeteksi sudah menyempit, pasien harus segera berkonsultasi dengan dokter jantung untuk mendapatkan perawatan yang tepat dengan segera. Ada beberapa gejala yang dapat timbul dari hipertensi pulmonal, antara lain: 

  • Sesak napas (awalnya saat beraktivitas, lalu bisa terjadi saat istirahat).
  • Tubuh terasa sangat lelah dan pusing.
  • Nyeri dada atau tekanan.
  • Edema (pembengkakan) di pergelangan kaki, tungkai, dan akhirnya perut.
  • Kehilangan nafsu makan sehari-hari.

Untuk perawatan hipertensi pulmonalis, ada beberapa cara yang bisa dilakukan sesuai anjuran dokter. Berikut daftarnya.

  • Obat-obatan khusus. Beberapa obat-obatan yang dapat membantu perawatan hipertensi pulmonalis adalah seperti obat untuk menghambat reseptor kalsium, penghambat reseptor endotelin, antikoagulan, dan lainnya.
  • Dilakukan operasi. Jika pemberian resep obat-obatan sudah tidak mempan lagi dan kondisinya tidak membaik, opsi pembedahan akan dilakukan. Operasi bertujuan agar jantung dan paru-paru dapat berfungsi dengan baik kembali.

2. Serangan Jantung (Infark Miokard)

Ketika otot jantung tersumbat dan tidak mendapat aliran darah, maka akan ada kerusakan atau kematian sel jantung. Kondisi inilah yang disebut dengan serangan jantung. Permasalahan pada jantung koroner karena penumpukan plak sangat berpengaruh pada aliran darah yang akan didapatkan oleh otot jantung.

Serangan jantung adalah penyakit yang berbahaya dan perlu ditangani dengan baik. Menurut data dari BPJS tahun 2023, kematian yang terjadi akibat penyakit yang menyumbat pembuluh arteri berjumlah hingga 20 juta jiwa. Bisa dikatakan kalau penyakit ini sangat mematikan.

Ada beberapa gejala yang dapat timbul saat seseorang menderita serangan jantung, seperti:

  • Nyeri dada hebat seperti ditekan, diremas, atau terasa panas.
  • Nyeri menjalar ke rahang, bahu, lengan, hingga punggung.
  • Sesak napas, keringat dingin, mual, dan perasaan cemas berlebihan.

Beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk penderita penyakit ini adalah, seperti:

  • Tindakan darurat: Angioplasti & pemasangan stent segera untuk membuka sumbatan pada pembuluh darah. Selain itu, bisa juga dengan obat trombolitik (pengencer gumpalan).
  • Obat-obatan: Dokter akan memberikan resep obat-obatan yang membantu menurunkan gejala-gejalanya, menghilangkan penyebabnya, dan memberikan efek penyembuhan.
  • Rehabilitasi jantung: Program yang dijalankan untuk tujuan pemulihan dan pencegahan, seperti melakukan pola hidup sehat. 

3. Kardiomiopati

Kardiomiopati adalah kelainan otot jantung yang akan membuat otot jantung melemah sehingga tidak dapat menjalankan tugasnya memompa darah dengan baik. Pelemahan otot jantung ini berhubungan dengan gagal jantung. Jadi, jika mendapat diagnosis kardiomiopati, segera lakukan pemeriksaan lagi untuk mendeteksi adanya komplikasi gagal jantung.

Ciri-ciri yang ditimbulkan cukup beragam, namun tidak jauh berbeda dari gejala yang didapatkan dari komplikasi lainnya. Oleh karena itu, pemeriksaan ke dokter jantung sangat diperlukan. Berikut daftar gejalanya: 

  • Sesak napas saat aktif atau istirahat.
  • Kelelahan yang ekstrem, meski tidak melakukan aktivitas berat. 
  • Pembengkakan (edema) pada kaki & perut.
  • Palpitasi (jantung berdebar), bahkan hingga menyebabkan kepala pusing hingga pingsan.
  • Nyeri dada (terutama pada jenis hipertrofi).

Penanganan kardiomiopati dilakukan menurut seberapa parah kondisi pasien. Semuanya bertujuan agar jantung bisa berfungsi dengan lebih baik dan pasien dapat menjalankan kehidupannya yang normal. Berikut bentuk penanganannya:

  • Obat-obatan: Ada beberapa jenis obat-obatan yang diresepkan, terutama jika gejala-gejalanya telah diketahui: obat antiaritmia, antikoagulan, diuretik, dan penurun darah tinggi.
  • Alat implan: Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD) untuk mencegah henti jantung, atau pacemaker untuk mengalirkan aliran listrik agar denyut jantung teratur.
  • Pembedahan: Dilakukan miektomi (membuang sebagian otot jantung yang bermasalah) atau transplantasi jantung.

4. Gagal Jantung

Gagal jantung adalah kondisi di saat otot jantung menjadi terlalu lemah sehingga tidak dapat memompa darah ke seluruh tubuh dengan baik. Selain karena PJK, gagal jantung juga bisa dipicu oleh beberapa gangguan lainnya seperti kardiomiopati, aritmia, hipertensi, dan permasalahan pada katup jantung.

Untuk mendapat diagnosis gagal jantung, dokter biasanya harus melakukan beberapa pemeriksaan. Pemeriksaannya meliputi rontgen dada, elektrokardiografi, ekokardiografi, tes darah, MRI, dan lainnya. Prosedur ini bertujuan untuk memastikan penyakitnya dan mendapatkan penanganan yang tepat setelahnya.

Sebelum itu, ada beberapa gejala yang bisa menjadi peringatan awal untuk gagal jantung. Gejalanya adalah sebagai berikut:

  • Sesak napas.
  • Batuk berat yang tidak berhenti-henti.
  • Tubuh terasa sangat lelah meski hanya melakukan aktivitas ringan.
  • Penumpukan cairan menyebabkan edema di perut dan kaki.
  • Sulit beraktivitas dengan normal.

Jika sudah berkonsultasi dengan dokter setelah menyadari gejala-gejal di atas, ada beberapa penanganan yang akan diberikan, antara lain:

  • Obat-obatan: Beberapa kombinasi obat-obatannya meliputi, diuretik, ACE inhibitor/ARB/ARNI, Beta-blocker, Antagonis Aldosteron, dan lainnya.
  • Pemasangan alat: Implantasi alat pacu jantung, ICD, dan lainnya.
  • Mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat dan teratur.
  • Melakukan pembedahan seperti operasi bypass jantung.

5. Gangguan Irama Jantung (Aritmia)

Aritmia adalah gangguan pada irama jantung yang disebabkan oleh sistem kelistrikannya. Ketika gangguan ini terjadi, detak jantung bisa menjadi sangat cepat, sangat lambat, atau bahkan tidak teratur. 

Pada beberapa kondisi, detak jantung tidak normal memang kerap terjadi seperti setelah beraktivitas berat atau mendengar kabar bahagia atau duka. Oleh karena itu, susah untuk membedakan gangguan aritmia atau hanya perubahan detak biasa saja.

Ada beberapa gejala yang timbul saat seseorang memiliki riwayat aritmia. Gejala inilah yang menjelaskan bahwa debaran itu bukanlah karena dipengaruhi emosi sesaat, tapi karena ada gangguan pada jantung. Berikut daftar gejalanya.

  • Jantung berdetak dengan cepat (takikardia) atau berdetak dengan lambat (bradikardia).
  • Pusing, rasa melayang, atau pingsan.
  • Sesak napas dan nyeri dada.
  • Merasa cepat lelah atau lemah.

Ada beberapa penangan yang dilakukan jika seseorang mengalami aritmia, berikut daftarnya:

  • Obat-obatan. Dokter akan meresepkan obat antiaritmia agar detak jantung bisa kembali normal. Selain itu, untuk mencegahh penggumpalan darah, dokter juga akan meresepkan walfarin.
  • Ablasi kateter: Prosedur yang digunakan untuk menghancurkan fokus kecil jaringan jantung yang menyebabkan aritmia.
  • Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD): Untuk pencegahan henti jantung mendadak.

Komplikasi PJK seperti yang disebutkan di atas ini bersifat progresif. Artinya,penyakit-penyakit tersebut berkembang seiring waktu sehingga dapat dicegah atau dikelola dengan beberapa cara, seperti mendeteksi sedini mungkin, kontrol faktor risiko yang ketat, dan mengikuti saran terhadap rencana pengobatan dari dokter. 

Kapan Harus ke Dokter?

Kunjungan ke klinik jantung oleh pasien PJK

Ada beberapa gejala penyakit jantung koroner yang membuat seseorang harus segera datang ke medis terdekat, seperti:

  • Nyeri dada.
  • Sesak napas tak kunjung membaik.
  • Jantung terus berdebar secara tidak normal.
  • Tubuh terasa lemah atau pingsan.

Namun, sebelum gejala pingsan terjadi karena tubuh sudah tidak kuat menahan gejala-gejala lagi, Anda perlu memeriksakan diri sedini mungkin ke dokter jantung. Selain itu, konsultasi dengan dokter jantung sangat dianjurkan bagi yang memiliki faktor risiko, meskipun merasa sehat-sehat saja. 

Klinik Jantung Dr. Gerard Leong di Singapura menyediakan fasilitas kesehatan, khususnya untuk menangani penyakit jantung yang lengkap. Dengan para ahli jantung yang telah berpengalaman, pasien bisa berkonsultasi dengan lebih leluasa dan merencanakan perawatan lebih lanjut jika memiliki penyakit jantung yang serius.

Intinya, untuk berkonsultasi dengan dokter jantung tidak perlu harus menunggu gejala menjadi berat dan berubah darurat. Tubuh biasanya akan mengirimkan sinyal secepat mungkin jika ada gangguan yang datang. Oleh karena itu, segera jadwalkan janji temu di klinik Dr. Gerard Leong untuk menjaga dan merawat jantung Anda agar selalu berfungsi dengan normal dalam jangka panjang.

Contact Form
Scroll to Top