Kini, gejala penyakit jantung tidak boleh diabaikan lagi. Kasus penyakit jantung di Indonesia meningkat di berbagai kelompok usia. Data SKI 2023 yang dirangkum GoodStats (9 Agustus 2024) menunjukkan kalangan dewasa muda (usia 25–34 tahun) mendominasi dengan orang 140,206 orang.

Penyakit jantung ini tidak mengenal usia. Oleh karena itu perlunya kesadaran sejak dini untuk mengetahui apa saja gejala awal penyakit jantung dan penyebabnya. Pengetahuan semacam ini akan membuat masyarakat lebih sadar dan bisa memikirkan tindakan pencegahan atau memeriksakan diri ke dokter agar kondisi jantung bisa membaik, serta tidak terjadinya komplikasi.
Jantung adalah salah satu organ paling penting dalam tubuh. Tugasnya adalah memompa darah, oksigen, dan nutrisi ke seluruh tubuh. Jika fungsi pompa jantung menurun, pasokan oksigen ke jaringan juga menurun sehingga dapat menimbulkan sesak napas dan gangguan fungsi organ lain.
Jadi, jangan sepelekan kondisi jantung yang bermasalah. Kenali dengan baik apa saja gejala utama penyakit jantung dan penyebabnya pada tubuh!
8 Gejala Penyakit Jantung

Tidak semua orang memiliki gejala awal penyakit jantung. Namun, beberapa gejala umum dapat timbul sebagai reaksi dari tubuh karena salah satu organnya sedang bermasalah. Sebagai individu, Anda harus peka terhadap kondisi diri sendiri dan cepat tanggap. Kenali beberapa gejala awal sakit jantung yang mungkin terjadi.
1. Nyeri Dada
Nyeri dada dapat muncul ketika otot jantung tidak menerima aliran darah dan oksigen sebanyak biasanya. Rasa nyeri ini akan terasa seperti ada beban yang berat di atas dada yang menekan. Biasanya terjadi secara singkat atau sesekali saja. Namun, jika nyeri dada sudah terjadi berulang-ulang, penderita perlu memeriksakan diri ke dokter.
Ada beragam tingkatan nyeri dada yang dialami seseorang, tergantung seberapa parah permasalahan jantung yang dimilikinya. Nyeri ini muncul di bagian tengah atau kiri dada. Rasa sakit yang berlebihan bisa timbul jika orang tersebut memiliki riwayat penyakit jantung koroner atau ketegangan otot jantung.
2. Susah Tidur
Saat jantung tidak dapat bekerja memompa darah dengan baik, atau ada infeksi lainnya, akan muncul cairan yang menumpuk di paru-paru. Pada penderita gagal jantung, penumpukan cairan di paru dapat memicu batuk malam/napas pendek saat berbaring (ortopnea) dan sering buang air kecil malam hari (nokturia), sehingga proses tidur menjadi terganggu.
3. Dada Berdebar Tak Karuan
Jantung memiliki sinyal listrik yang memantau dan mengendalikan detak jantung. Jika ada gangguan pada sinyal kelistrikan jantung, seseorang akan mengalami aritmia atau kondisi jantung berdetak sangat kenceng, sangat lambat, atau tak teratur yang disertai dengan sensasi berdebar.
Gejala ini akan terasa sangat tidak nyaman di dada. Meski dapat hilang dengan sendirinya, tapi jika menetap atau terus menerus beruang, perlu dilakukan evaluasi karena sebagian aritmia berisiko menyebabkan melemahnya otot jantung atau kardiomiopati, stroke, hingga gagal jantung.
4. Pembengkakan pada Perut atau Kaki
Pembengkakan bisa terjadi karena adanya penumpukan cairan akibat jantung tidak dapat memompa dengan baik. Selain itu, pada beberapa kondisi, ginjal juga tidak dapat menyaring cairan tersebut dengan optimal. Sehingga cairan akan menumpuk di beberapa anggota tubuh, terutama di bagian abdomen atau perut serta betis hingga kaki.
Penumpukan cairan ini juga dapat menyebabkan bobot tubuh seseorang naik. Tak heran jika alih-alih menjadi kurus karena penyakit jantung, beberapa orang malah terlihat lebih gemuk, terutama penderita gagal jantung.
5. Sesak Napas
Sesak napas terjadi karena paru-paru tidak menerima pasokan oksigen yang cukup. Jantung yang bermasalah adalah penyebabnya. Saat jantung tidak dapat bekerja dengan baik untuk memompa darah dan oksigen ke seluruh tubuh, maka salah satu bentuk respons tubuh adalah dengan sesak napas.
Ada beberapa penyakit jantung yang dapat menimbulkan napas sesak, seperti gagal jantung, aritmia, atau kardiomiopati. Jika kondisi sesak kerap muncul saat beraktivitas, maka penderitanya perlu segera memeriksakan kondisi kesehatan jantung.
6. Mudah Lelah atau Pusing

Kekurangan oksigen pada otak dan otot tungkai dapat menyebabkan seseorang mudah lelah, pusing, hingga pingsan. Hal ini karena jantung yang hanya mampu memompa sedikit darah dan oksigen. Jadi, penyalurannya akan dipilih ke organ yang dianggap lebih vital, tidak seperti otot tungkai dan otak.
Jika kondisinya semakin parah, tubuh bisa pingsan kapan saja. Jadi, sebelum kondisi ini terjadi, segera periksakan diri saat merasa tubuh mulai cepat kelelahan meski hanya melakukan aktivitas ringan.
7. Sakit pada Rahang, Lengan, atau Punggung
Pada beberapa orang dengan gangguan serangan jantung, mereka dapat merasakan gejala nyeri pada rahang, lengan, atau punggung. Nyeri lebih sering menjalari area tubuh ke bawah sebelah kiri, seperti dari leher, bahu, punggung, dan lengan kiri.
Namun, gejala nyeri seperti ini memang susah diidentifikasi karena bisa disebabkan oleh beberapa faktor lain, seperti sakit gigi, dislokasi otot leher, atau karena sering mengangkat barang berat. Oleh karena itu, perlunya ketelitian dengan melihat beberapa gejala lainnya juga.
8. Sakit Perut
Gejala sakit perut cukup jarang terjadi pada pasien jantung, hanya ada 10% yang memiliki gejala serupa. Gejala ini ditandai dengan sendawa, perut kembung, atau sembelit. Banyak orang yang mungkin tidak akan menyadarinya karena gangguan pencernaan akibat penyakit jantung terasa seperti sakit perut karena kembung atau sembelit biasa.
Pada umumnya akan timbul rasa nyeri, tidak nyaman, atau perasaan perut menjadi penuh. Jika sadar dengan gejala ini, segera periksakan diri karena bisa jadi penderita mengalami permasalahan pada jantung sekalian dengan penyakit pada gastrointestinal.
Seseorang tidak akan mengalami semua gejala ini sekaligus. Karena berbeda jenis penyakit jantung, berbeda pula gejala yang akan ditimbulkan. Namun, jika merasa telah mengalami lebih dari satu gejala di atas secara berulang, segera konsultasikan ke dokter di rumah sakit terdekat!
Penyebab Penyakit Jantung

Penyebab utama dari penyakit jantung adalah darah yang tidak dapat dipompa dengan baik dari atau ke jantung, sehingga baik jantung atau organ lainnya akan bermasalah. Banyak faktor berkontribusi terhadap penyakit jantung. Beberapa dapat diubah (gaya hidup dan kondisi medis), sebagian lain tidak (usia, riwayat keluarga).
Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi aterosklerosis—penumpukan plak lemak pada dinding arteri—atau melemahkan fungsi pompa/listrik jantung. Mngetahui penyebab penyakit jantung itu sangat penting supaya dapat melakukan perawatan secara tepat. Kenali beberapa penyebabnya sebagai berikut ini.
a. Faktor gaya hidup
- Kurang aktivitas fisik.
- Merokok (aktif maupun pasif) meningkatkan kerusakan pembuluh darah—berhenti merokok sangat dianjurkan.
- Alkohol berlebihan dan penyalahgunaan narkoba merusak jantung dan organ lain.
- Pola makan tinggi lemak jenuh/trans, gula, dan garam dapat mempercepat pembentukan plak dan meningkatkan tekanan darah.
- Stres kronis dapat memperburuk tekanan darah dan kebiasaan tidak sehat.
b. Faktor kesehatan
- Hipertensi atau tekanan darah tinggi yang tidak dikontrol dapat merusak lapisan dalam arteri dan mempercepat pembentukan plak aterosklerotik.
- Kolesterol LDL tinggi memicu penumpukan plak pada dinding arteri sehingga aliran darah ke jantung berkurang.
- Diabetes merusak pembuluh darah dan saraf jantung.
- Obesitas meningkatkan risiko hipertensi, diabetes, dan dislipidemia.
- Inflamasi kronis berperan dalam pembentukan plak yang mudah ruptur dan menyumbat arteri.
c. Faktor yang tidak dapat diubah
- Riwayat keluarga/keturunan: penyakit jantung prematur pada keluarga dekat meningkatkan risiko Anda.
- Kehamilan dengan preeklamsia meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular jangka panjang pada ibu, dan bukti juga menunjukkan peningkatan risiko pada anak di kemudian hari.
- Usia: risiko meningkat seiring bertambahnya usia.
- Jenis kelamin & menopause: pria cenderung berisiko lebih awal; pada wanita, risiko meningkat setelah menopause dan dapat mendekati pria seusia.
- Ras/etnis tertentu memiliki prevalensi lebih tinggi untuk hipertensi atau diabetes; hal ini terkait faktor genetik dan sosial.
Kapan Harus ke Dokter?
Mengingat angka penderita penyakit jantung di Indonesia yang sangat tinggi, segera konsultasi ke dokter jantung jika mengalami satu atau lebih gejala penyakit jantung yang telah disebutkan di atas, terutama:
- Nyeri dada yang semakin sering datang dan semakin berat.
- Sesak napas yang datang tiba-tiba dan parah.
- Gejala yang muncul semakin memburuk atau terjadi secara berulang.
Kunjungi klinik jantung Dr. Gerard Leong di Singapura untuk memeriksakan kondisi kesehatan jantung Anda. Jika ada indikasi penyakit jantung, Anda akan segera diberi penanganan dan perawatan yang tepat.
Jangan menunggu hingga mengalami komplikasi! Gejala penyakit jantung sering kali diabaikan sampai kondisi menjadi darurat. Pemeriksaan dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi serius serta mencegah aktivitas sehari-hari terganggu.
Atur jadwal temu dengan Dr. Gerard Leong lewat kontak di bawah sekarang juga!